Rabu, 15 Juni 2022

Review Wisata Telaga Kumpe

 

Telaga Kumpe. Desa Gunung Lurah, CilongokBanyumas 


     Telaga Kumpe dapat dijadikan sebagai salah satu tempat untuk mengisi kembali semangat yang hilang. Suasana telaga yang asri dan tenang menjadi lokasi yang pas untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Telaga ini sangat cocok untuk dijadikan tempat healing bersama keluarga maupun sendirian.

Telaga sunyi ini merupakan telaga yang berada di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Telaga ini memiliki pesona alam yang menakjubkan. Di sekitar telaga tumbuh pepohonan hijau yang lebat karena lokasinya berada di tengah perbukitan. Suasana pedesaan sangat terasa di Telaga Kumpe sehingga memberikan perasaan rileks bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Bukan hanya lokasinya yang berada di perbukitan, telaga ini juga memiliki air yang tenang berwarna kehijauan. Hal tersebut membuat lokasi wisata ini semakin menenangkan. Untuk menambah  pengalaman berkunjung, pengelola juga menyediakan beberapa perahu yang dapat digunakan untuk mengelilingi telaga sambil menikmati udara yang sejuk.

Tak hanya itu, beberapa ikan juga terlihat muncul mendekati permukaan, sehingga tak jarang beberapa pengunjung memanfaatkannya untuk memancing ikan. Di sekeliling telaga juga terdapat hamparan rumput hijau yang dapat digunakan untuk bersantai dengan teman maupun keluarga sambil menikmati pesona keindahan suasana di sini.

Sejarah adanya Telaga Kumpe ini cukup unik. Hal ini karena di tengah telaga pada saat itu ditumbuhi tanaman yang bernama tanaman kumpai atau “kumpe”. Hal inilah yang menjadi asal muasal mengapa telaga ini disebut sebagai Telaga Kumpe.

Arti bahasa kumpe sendiri berasal dari bahasa Jawa, “dikum”, yang artinya direndam, dan “dipe” yang artinya dijemur. Hal ini dikarenakan sebagian akar tanaman ini berada di dalam air. Sementara bagian daunnya berada di atas permukaan air dan terkena sinar matahari. Tak jauh dari lokasi telaga juga terdapat sebuah bukit yang dinamakan sebagai Bukit Kumpe. Dari Bukit Kumpe ini terlihat jajaran pohon–pohon rimbun yang menambah kesan alami serta pemandangan dataran tinggi yang indah.

            Cerita legenda yang berkembang, telaga tersebut terbentuk dari kaki Bima atau Wekudara dalam cerita pewayangan Jawa. Saat itu, Bima hendak meletakkan Gunung Slamet sebagai paku tonggak Pulau Jawa.  Saat membawa gunung itu, Bima menghadap ke  arah timur laut dan posisi kanannya berada di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, sedangkan kaki kirinya ada di Kaligua, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes.
            Karena merasa terlalu berat membuat kakinya menginjak terlalu dalam hingga akhirnya membentuk telaga di kedua kakinya. Antara mitos atau fakta, bentuk di telaga ini menyerupai bentuk kaki  dengan tumit berada di sebelah selatan dan jemari di sebelah utara. Karena tertutup oleh tanaman Kumpe, maka bentuk kaki ini tidak terlihat.
            Telaga Kumpe ini  juga memiliki aura kemistisan karena wilayah tersebut dikelilingi oleh sejumlah petilasan, seperti Bukit Krangenana  yang merupakan tempat  petilasan Mbah Sapu Jagad bernama petilasan Tabat Waru yang diyakini sebagai penjaga telaga. Kemudian ada petilasan Telaga Nangka, Rantansasi dan Watu Rajut yang merupakan makam kiai yang tidak diketahui namanya.


            Karena lokasinya berada di tengah perbukitan beberapa fasilitas di sini masih sangat terbatas. Beberapa di antaranya adalah tempat parkir, warung makanan ringan dan minuman, tempat duduk, dan beberapa saung. Area pinggiran Telaga Kumpe juga dapat dijadikan sebagai area piknik.

Pengunjung dapat menyewa sampan kepada pihak pengelola untuk dapat menikmati keindahan di sini. Apabila pengunjung sedang sepi maka bisa menggunakan sampan lebih lama. Tidak perlu khawatir jika takut menggunakan sampan karena akan ditemani oleh petugas yang akan membantu mengelilingi Telaga Kumpe ini.  Di sini juga ada jembatan bambu sebagai spot favorit pengunjung untuk mengabadikan momen.

Harga tiket masuk ke Telaga Kumpe sangatlah terjangkau, biayanya hanya Rp5.000 per orang. Jika datang menggunakan kendaraan beroda dua akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp2.000. Sedangkan biaya parkir untuk kendaraan beroda empat sebesar Rp5.000.

Jika tertarik untuk mengelilingi Telaga Kumpe menggunakan sampan, cukup membayar Rp5.000 – Rp10.000/orang untuk durasi 30  menit. Dari tengah kita bisa mengambil beberapa foto selfie dengan latar belakang perbukitan yang asri. Kawan Jalan dapat mengunjungi Telaga Kumpe pada weekdays maupun weekends karena buka setiap hari. Untuk jam operasional yaitu mulai dari jam 08.00 hingga jam 17.00 WIB.

Jika ingin mengunjungi wisata ini, rutenya dari Pasar Cilongok belok ke kanan. Ikuti jalan hingga bertemu dengan pertigaan dengan patokan SD Panembang, kemudian belok ke arah kanan dan masuk ke gang pertama di sebelah  kiri. Lalu ikuti jalan hingga bertemu dengan balai Desa Sambirata lalu pergilah ke arah kanan.

Setelah itu akan bertemu dengan perempatan lalu ambil kiri. Ikuti jalan tersebut hingga sampai ke lokasi Telaga Kumpe. Supaya lebih mudah maka dapat menggunakan maps untuk sampai ke lokasi. Jalan di sini sedikit menanjak dan menurun jadi pastikan kendaraan dalam keadaan yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAU GAK SI?Pentingnya Bahasa Indonesia

  PENTINGNYA BAHASA INDONESIA DAN RAGAM BAHASA Bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan kita. Di Indonesia banyak...