Telaga
Kumpe. Desa Gunung Lurah, Cilongok, Banyumas
Telaga Kumpe dapat dijadikan sebagai salah satu tempat untuk mengisi kembali semangat yang hilang. Suasana telaga yang asri dan tenang menjadi lokasi yang pas untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Telaga ini sangat cocok untuk dijadikan tempat healing bersama keluarga maupun sendirian.
Telaga
sunyi ini merupakan telaga yang berada di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok,
Kabupaten Banyumas. Telaga ini memiliki pesona alam yang menakjubkan. Di
sekitar telaga tumbuh pepohonan hijau yang lebat karena lokasinya berada di
tengah perbukitan. Suasana pedesaan sangat terasa di Telaga Kumpe sehingga
memberikan perasaan rileks bagi siapa saja yang mengunjunginya.
Bukan
hanya lokasinya yang berada di perbukitan, telaga ini juga memiliki air yang
tenang berwarna kehijauan. Hal tersebut membuat lokasi wisata ini semakin
menenangkan. Untuk menambah pengalaman berkunjung, pengelola juga
menyediakan beberapa perahu yang dapat digunakan untuk mengelilingi telaga
sambil menikmati udara yang sejuk.
Tak hanya
itu, beberapa ikan juga terlihat muncul mendekati permukaan, sehingga tak
jarang beberapa pengunjung memanfaatkannya untuk memancing ikan. Di sekeliling
telaga juga terdapat hamparan rumput hijau yang dapat digunakan untuk bersantai
dengan teman maupun keluarga sambil menikmati pesona keindahan suasana di sini.
Sejarah
adanya Telaga Kumpe ini cukup unik. Hal ini karena di tengah telaga pada saat
itu ditumbuhi tanaman yang bernama tanaman kumpai atau “kumpe”. Hal inilah yang
menjadi asal muasal mengapa telaga ini disebut sebagai Telaga Kumpe.
Arti
bahasa kumpe sendiri berasal dari bahasa Jawa, “dikum”,
yang artinya direndam, dan “dipe” yang
artinya dijemur. Hal ini dikarenakan sebagian akar tanaman ini berada di dalam
air. Sementara bagian daunnya berada di atas permukaan air dan terkena sinar
matahari. Tak jauh dari lokasi telaga juga terdapat sebuah bukit yang dinamakan
sebagai Bukit Kumpe. Dari Bukit Kumpe ini terlihat jajaran pohon–pohon rimbun
yang menambah kesan alami serta pemandangan dataran tinggi yang indah.
Cerita legenda yang berkembang,
telaga tersebut terbentuk dari kaki Bima atau Wekudara dalam cerita pewayangan
Jawa. Saat itu, Bima hendak meletakkan Gunung Slamet sebagai paku tonggak Pulau
Jawa. Saat membawa gunung itu, Bima menghadap ke arah timur laut
dan posisi kanannya berada di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, sedangkan
kaki kirinya ada di Kaligua, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes.
Karena
merasa terlalu berat membuat kakinya menginjak terlalu dalam hingga akhirnya
membentuk telaga di kedua kakinya. Antara mitos atau fakta, bentuk di telaga
ini menyerupai bentuk kaki dengan tumit berada di sebelah selatan dan
jemari di sebelah utara. Karena tertutup oleh tanaman Kumpe, maka bentuk kaki
ini tidak terlihat.
Telaga
Kumpe ini juga memiliki aura kemistisan karena wilayah tersebut
dikelilingi oleh sejumlah petilasan, seperti Bukit Krangenana yang
merupakan tempat petilasan Mbah Sapu Jagad bernama petilasan Tabat Waru
yang diyakini sebagai penjaga telaga. Kemudian ada petilasan Telaga Nangka,
Rantansasi dan Watu Rajut yang merupakan makam kiai yang tidak diketahui
namanya.
Karena lokasinya berada di tengah perbukitan beberapa fasilitas di sini masih sangat terbatas. Beberapa di antaranya adalah tempat parkir, warung makanan ringan dan minuman, tempat duduk, dan beberapa saung. Area pinggiran Telaga Kumpe juga dapat dijadikan sebagai area piknik.
Pengunjung dapat menyewa sampan kepada pihak
pengelola untuk dapat menikmati keindahan di sini. Apabila pengunjung sedang
sepi maka bisa menggunakan sampan lebih lama. Tidak perlu khawatir jika takut
menggunakan sampan karena akan ditemani oleh petugas yang akan membantu
mengelilingi Telaga Kumpe ini. Di sini juga ada jembatan bambu sebagai
spot favorit pengunjung untuk mengabadikan momen.
Harga tiket masuk ke Telaga Kumpe sangatlah
terjangkau, biayanya hanya Rp5.000 per orang. Jika datang menggunakan kendaraan
beroda dua akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp2.000. Sedangkan biaya parkir
untuk kendaraan beroda empat sebesar Rp5.000.
Jika tertarik untuk mengelilingi Telaga Kumpe
menggunakan sampan, cukup membayar Rp5.000 – Rp10.000/orang untuk durasi
30 menit. Dari tengah kita bisa mengambil beberapa foto selfie dengan
latar belakang perbukitan yang asri. Kawan Jalan dapat mengunjungi Telaga Kumpe
pada weekdays maupun weekends karena
buka setiap hari. Untuk jam operasional yaitu mulai dari jam 08.00 hingga jam
17.00 WIB.
Jika ingin mengunjungi wisata ini, rutenya dari
Pasar Cilongok belok ke kanan. Ikuti jalan hingga bertemu dengan pertigaan
dengan patokan SD Panembang, kemudian belok ke arah kanan dan masuk ke gang
pertama di sebelah kiri. Lalu ikuti jalan hingga bertemu dengan balai
Desa Sambirata lalu pergilah ke arah kanan.
Setelah itu akan bertemu dengan perempatan lalu
ambil kiri. Ikuti jalan tersebut hingga sampai ke lokasi Telaga Kumpe. Supaya
lebih mudah maka dapat menggunakan maps untuk sampai ke lokasi. Jalan di sini
sedikit menanjak dan menurun jadi pastikan kendaraan dalam keadaan yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar